28.9.09

AYO!!

SEMANGAT!!!!!!!!!!!!!
*untuk nesia anindita..semoga lekas sembuh....

Klik sini untuk lanjutannya.....

24.9.09

190909

tanyamu: dimanakah tempat berhenti?
jawabku: di pelukan bumi

Klik sini untuk lanjutannya.....

18.9.09

ulasan kaki langit

uletlah seperti cahaya mentari
yang tiada berhenti menyinari bumi

jika awan menghalang, merambatlah ia
jika telah malam, maka ia umpan pada rembulan

(auliaibrahimyeru,18september2009,bandung)

Klik sini untuk lanjutannya.....

di tepian fajar

ho, rayap telah datang di muka memegangi perutnya yang lapar
aku tanya perihal kehadirannya:
engkau menolak menulis dengan pena di atas kertas
sebab lebih memilih bercerita pada udara yang berpartikel bebas

demikianlah ia aku persilahkan

(auliaibrahimyeru,18september2009,bandung)

Klik sini untuk lanjutannya.....

catatan tepi hari 1

langit sore ini
menghela air hujan membasahi bumi
selokan pinggir jalan yang tersumbat
muntahkan luapan air bah
lalu lidah manusia pun bersilat-ia memaki
dan alpa atas dosa jarinya sendiri

(auliaibrahimyeru,18september2009,bandung)

Klik sini untuk lanjutannya.....

13.9.09

semoga cepat sembuh

amiiinnnn....

Klik sini untuk lanjutannya.....

23.8.09

Dan Sandal Jepit Pun Melayang

setan bukan makhluk bergarpu yang merah
dan bermata kilat tajam
ia hadir di aliran darah
dengan berbagai wajah
menutup dan membalikkan daya hidup
dengan nafsu

SETAN ALAS!MODAR SIA!
(auliaibrahimyeru,23agustus2009)

Klik sini untuk lanjutannya.....

20.8.09

Kriya Kontemporer??

"Kontemporer" jika didefinisikan secara harfiah maka artinya adalah "kekinian" atau "gejala kekinian". Bahkan ada yang menyama artikan dengan "modern", dimana arti "modern" sendiri tidak jauh dari "sesuatu yang berhubungan dengan kekinian (present)". Dengan kata lain, kriya kontemporer adalah "kriya kini".

Jadi, tentu untuk menerawang kriya kontemporer, kita harus melihat lebih jauh gejala-gejalanya. Tetapi sampai sini, kita mesti awas terhadap istilah kontemporer itu sendiri. Dengan definisi praktis kontemporer adalah "kekinian", sampai manakah batasan kontemporer? Pada akhirnya, kita bertemu dengan batasan waktu. Kekinian bisa kita sebut dua jam , satu hari , satu tahun, dua tahun, bahkan sepuluh tahun belakangan. Jika batas akhir dari kontemporer itu tidak terbatas, maka perlu ditandai garis tegas batas awal dari kontemporer.

Menoleh sejarah seni rupa, penandaan seni rupa kontemporer dimulai dari era 60-70an sampai sekarang. Dilanjutkan dengan asumsi bahwa kriya adalah sama dengan "crafts", maka kisah mengenai kriya kontemporer dapat kita mulai dengan sejarah gerakan "Art and Crafts" yang diprakarsai oleh William Morris dan John Ruskin. Namun, apakah sejarah kriya dimulai dari "Arts and Crafts"? Bagaimana dengan ikat tenun, ukir kayu, atau keris?

Kalau begitu asumsi yang dibangun bahwa kriya sama dengan "crafts" perlu dipertanyakan, walaupun hasil akhirnya menunjukkan pertemuan, namun aspek-aspek yang mendirikannya adalah berbeda. Jika kita tinjau kebelakang, memang terdapat beberapa pihak yang berusaha mendefinisikan "kriya" itu sendiri. Namun, beberapa karakteristik yang ada dalam rumusan tersebut juga ada dalam karakteristik seni rupa dan desain.

Pada akhirnya kita harus meninjau hasil-hasil karya yang berkenaan dengan istilah ini. Kita mesti meninjau pameran-pameran sebagai ajang untuk melihat sejauh mana dan bagaimana kriya saat ini. Namun, pameran yang mengidentifikasi dirinya sebagai pameran kriya sekarang kebanyakan pameran "trade fair". Sejauh ini jarang pameran kriya yang dilaksanakan di tempat yang representatif dengan kurasi dan display, sehingga masyarakat belum bisa mengapresiasi karya secara cermat.

Jika dilihat secara berjarak, tidak sedikit produk desain atau karya seni yang bertalian dengan beberapa tipe karya yang sering diasosiasikan dengan bidang kriya itu sendiri, seperti tatah kulit, jewellry, ataupun batik. Maka arah cipta kriya sendiri agaknya harus dikembalikan berdasarkan tendensi dari si pembuatnya, apakah dia hendak membuat produk sebuah desain, kriya hias, atau karya seni. Dalam hal ini, kriya disepakati bertumpu pada suatu kekhasan yaitu craftmanship atau keseriusan dan ketepatan dalam mengolah medium. Dengan kondisi ini, kita tidak perlu meributkan lagi pengkategorian karya apakah kriya atau tidak, namun kita mesti melihat dari kacamata yang benar. Misalnya, dalam melihat karya keramik Albert Yonathan atau karya bordir Erik Pauhrizi tentu kita sudah tidak lagi membicarakan kriya atau seni, karena sudah jelas pembuat bermaksud membuat karya seni, namun tentu tidak ada yang mengesampingkan kekentalan orientasi kekriyaan dalam karyanya.

Agaknya memang kriya menjadi suatu istilah yang licin, begitu pula kontemporer. Perkawinan kedua istilah itu mengundang pertanyaan besar, lantaran begitu samarnya batasan-batasan istilah tersebut. Hal ini dapat dipandang sebagai hal yang mengkhawatirkan, namun disamping itu ternyata kesamaran ini menyimpan banyak potensi dengan arah yang berbeda-beda dan dapat dikembangkan, apakah nantinya orientasi kekaryaan itu lebih ke benda hias, karya seni, atau desain yang fungsional. Tentu perguruan tinggi sebagai penghasil lulusan-lulusan harus bersiap dengan luasnya spektrum dari kriya ini sendiri.

Klik sini untuk lanjutannya.....