Dalam proses politik Indonesia tradisional, dinamika perubahan memang datang dari pertentangan antargenerasi. Dalam kehidupan keraton dahulu, di sekitar putra mahkota mengelompok para anggota istana yang ambisius dan beroposisi terhadap raja yang makin lama makin tua dan lemah, yang dikelilingi oleh para penasihat tua. Pola politik ini mungkin berasal dari penekanan di Indonesia bahwa politik berkisar pada 'angkatan', yang sebenarnya bersifat elitis, seakan-akan sekelompok orang dapat menentukan roda dunia tanpa golongan sosial lain.
(Ong Hok Ham)
15.6.09
Angkatan
dilemparkan saja oleh
oknum berinisial depan "a" dan berinisial belakang "ul"
ketika
23:05
0
komentar
Link ke posting ini
Sajak Anak Muda
Saya rasa, sajak ini masih relevan. Mungkin mengecilkan makna dari sajak ini, hanya saja, dalam persoalan lingkungan terdekat saya belakangan ini, sajak ini saya katakan "pas".
Sajak Anak Muda
oleh: W.S Rendra
Kita adalah angkatan gagap
yang diperanakkan oleh angkatan takabur.
Kita kurang pendidikan resmi
di dalam hal keadilan,
karena tidak diajarkan berpolitik,
dan tidak diajar dasar ilmu hukum
Kita melihat kabur pribadi orang,
karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.
Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,
karena tidak diajar filsafat atau logika.
Apakah kita tidak dimaksud
untuk mengerti itu semua ?
Apakah kita hanya dipersiapkan
untuk menjadi alat saja ?
inilah gambaran rata-rata
pemuda tamatan SLA,
pemuda menjelang dewasa.
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.
Bukan pertukaran pikiran.
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Dasar keadilan di dalam pergaulan,
serta pengetahuan akan kelakuan manusia,
sebagai kelompok atau sebagai pribadi,
tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.
Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.
Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,
tidak bisa kita hubung-hubungkan.
Kita marah pada diri sendiri
Kita sebal terhadap masa depan.
Lalu akhirnya,
menikmati masa bodoh dan santai.
Di dalam kegagapan,
kita hanya bisa membeli dan memakai
tanpa bisa mencipta.
Kita tidak bisa memimpin,
tetapi hanya bisa berkuasa,
persis seperti bapak-bapak kita.
Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.
Di sana anak-anak memang disiapkan
Untuk menjadi alat dari industri.
Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.
Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?
Kita hanya menjadi alat birokrasi !
Dan birokrasi menjadi berlebihan
tanpa kegunaan -
menjadi benalu di dahan.
Gelap. Pandanganku gelap.
Pendidikan tidak memberi pencerahan.
Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan
Gelap. Keluh kesahku gelap.
Orang yang hidup di dalam pengangguran.
Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?
Karena tidak bisa kita tafsirkan,
lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.
Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?
Apakah ini ? Apakah ini ?
Ah, di dalam kemabukan,
wajah berdarah
akan terlihat sebagai bulan.
Mengapa harus kita terima hidup begini ?
Seseorang berhak diberi ijazah dokter,
dianggap sebagai orang terpelajar,
tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dan bila ada ada tirani merajalela,
ia diam tidak bicara,
kerjanya cuma menyuntik saja.
Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum
dianggap sebagi bendera-bendera upacara,
sementara hukum dikhianati berulang kali.
Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi
dianggap bunga plastik,
sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.
Kita berada di dalam pusaran tatawarna
yang ajaib dan tidak terbaca.
Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.
Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.
Dan bila luput,
kita memukul dan mencakar
ke arah udara
Kita adalah angkatan gagap.
Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar.
Daya hidup telah diganti oleh nafsu.
Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.
Kita adalah angkatan yang berbahaya.
(Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977 )
dilemparkan saja oleh
oknum berinisial depan "a" dan berinisial belakang "ul"
ketika
21:28
0
komentar
Link ke posting ini
24.5.09
SELAMAT ULANG TAHUN KMSR-ITB!!!

Saya dapat dari sini. Hem, selamat ya. Ini adalah sertifikat "lulus" OS GEMESH 94. Tentu saya masih SD waktu OS ini berlangsung.hueaheuahuehaua.
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater tercinta...
DIRGAHAYU KMSR!!!
dilemparkan saja oleh
oknum berinisial depan "a" dan berinisial belakang "ul"
ketika
21:57
2
komentar
Link ke posting ini
25.4.09
Juni-Juli-Agustus (Bagian Tiga)
Gila yah. Baru nulis dua aja capeknyo. Huehahahha.
Tapi ya sambil ngisi waktu luang yang sebenarnya dihasilkan dari penundaan tugas, ya boleh juga ya bikin ginian lagi. Mengingatnya lumayan sulit ternyata, ternyata lebih mudah menulis pengalaman TPB ya..heueheuheu.
Oke, Juni-Juli-Agustus di tahun 2007, adalah sebuah titik yang penting, dalam banyak hal. Hal ini disebabkan angkatan 2005 sudah mulai memegang tampuk kepemimpinan dalam banyak pos. Keterlibatan saya muncul ketika saya masuk ke dalam Kementerian PSDM, saat itu posisi saya adalah Manajer SDM.
Akhirnya dimulai juga iya, seperti tahun sebelumnya, mulai diadakan open recruitment Ketua OSKM 2007 (ya, Anda tidak salah baca, namanya OSKM). Ohya saya ingat, embel-embel OSKMnya begini, "OSKM atau apapun namanya nanti". Memang OSKM'06 kemaren membuat orang tidak begitu mensakralkan lagi nama OSKM.
Entah ada apa saat itu, yang jelas kondisi kampus tidak begitu seantusias tahun kemarin. Banyak kasus yang mengiringi, sebelum OSKM 2007 ini dimulai, sehingga perhatian mungkin banyak teralihkan. Seperti kasus pelarangan parkir di dalam Kampus, kasus kecelakaan pasca Inisiasi KMSR, dan lain-lain. Ini menurut saya, membuat perhatian Kampus lebih banyak tercurah kepada kasus-kasus yang lain, yang tentu lebih panas.
Singkat cerita, akhirnya pemilihan ketua OSKM 2007 itu datang. Calon ketua waktu itu hanya satu, saking cuma satu doang, akhirnya dibuat forum bersama himpunan-himpunan, biar ada calon lain atau engga. Nah, akhirnya di suatu ruangan di pojokan kampus belakang yang katanya menyeramkan, dikenal dengan ruangan Kongres, dimulailah penilaian Ketua OSKM 2007. Saya lupa komposisinya saat itu. Ada petinggi Kabinet KM serta orang yang terlibat OSKM 2006 kemarin. Dengan calonnya yang masih satu. Iya, masih satu.
Sebenarnya penilaian ini sedikit nekat juga. Biasanya penilaian Ketua OSKM dilakukan bersama elemen kampus yang lain, tapi tampaknya, demi efektifitas (dan mungkin karena para pejabat Kabinet lumayan menokoh), akhirnya penilaian itu dilakukan oleh Kabinet saja. Kalo g salah sih, sebenarnya muncul calon satu lagi, tapi entah kenapa dia tidak mengajukan diri, terdengar juga nada sumbang bahwa alasan si calon satu lagi tidak jadi mengajukan diri dikarenakan suatu aktivitas berinisial depan "K", berinisial belakang "P".
Akhirnya sang ketua pun terpilih.
Iya terpilih.
Terpilih kok belum heboh ya?
kok kampus "krik krik" banget sih?
loh perasaan udah mau lewat kok sepi aja ya?
nama ganti ke PMB (Penyambutan Mahasiswa Baru) perasaan ga heboh-heboh amat ya?
Hoya ngomong-ngomong soal PMB, sebenarnya sempat diwacanakan nama pengganti OSKM. Karena engga ketemu-ketemu namanya jadi PMB saja. Pas ketuanya ditanya, kok ga seru banget namanya, wajahnya langsung muram, "yaudahlah namanya ini aja, pusing." Begitulah kira-kira.
Iya, kampus sepi akan dinamisasi atas apapun. Aneh banget. Padahal kondisi Panitia bukannya baik. Infrastruktur panitia belum beres, danus tidak jalan, proposal belum jadi, panitia lapangan sangat minim (diklat pertama yang hadir tidak lebih dari 50 orang).
Tetapi kampus tetap sepi. Sebenarnya bibit-bibit kejanggalan mulai naik ke permukaan ketika IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) merasa aneh dengan cara kerja yang dilakukan oleh Panitia. Pasalnya, Panitia telah menetapkan bentuk acara dari OSKM ini. Dengan Open House Unit yang digabungkan ke dalam panitia PMB, maka panitia saat itu pikir jika Unit dibikinin Open House, Himpunan juga dong!makanya muncul konsep Open House Himpunan (yang disingkat jadi OHH).
Jika menilik sistematika berfikir yang sistematis (halah!) maka tentunya semua bermula dengan apa yang dimiliki oleh Panitia atau dengan bahasa umumnya adalah materi dari PMB itu sendiri, sesuai dengan arahan dari Kabinet dan cita-cita sang ketua itu sendiri.
Sebenarnya arahan dari Kabinet itu sederhana yaitu "terjadinya interaksi antar angkatan senior dengan angkatan junior" dan "kampus rame". Hal ini tidak dipahami juga oleh Panitia, walaupun telah diterangkan berkali-kali. Dan permasalahannya sederhana: rupa-rupanya Kabinet tidak menuliskan secara jelas arahannya, dan itu selalu membuat perbedaan sudut pandang dalam melihat kedudukan "PMB" ini seperti apa di tubuh panitia itu sendiri.
Sebenarnya, rektorat sendiri telah mempunyai acara yang fix, sehingga panita hanya bisa mengutak-ngatik saja keberadaan panitia disitu, bahkan sampai membuat PMB yang sebulan. Permasalahan ini membuat Panitia jadi kelimpungan dan tentunya ini menjadi kontraproduktif. Kondisi ini saya sebut sebagai "kondisi yang menyeramkan". Permasalahan "acara muncul duluan sebelum materi" juga muncul ketika rektorat di akhir Mei pun sudah mengeluarkan draft acara yang sudah tinggal disahkan saja.
Akibatnya, waktu interaksi dengan senior (yang dimanifestasikan sebagai Panitia) sangat sedikit. Walhasil, 2007 banyak ketiduran di Sabuga. Kesimpulannya, sistematika yang kacau dan gerak yang lambat adalah penyebab yang dominan dari keseluruhan permasalahan PMB 2007. Permasalahan ini berbuntut ke banyak hal.
Akibatnya pula, Panitia banyak melakukan akrobat, Panitia pun mengalami dilema antara memilih yang baik atau yang benar. Yang Baik adalah Panitia merespon permasalahan di depan mata (permasalahan teknis, seperti dana, perizinan), Yang Benar adalah Panitia menjalani proses yang wajar dengan sistematika yang sedianya dijalani. Akhirnya Panitia pun memilih Yang Baik. Akhirnya pembenaran sering terjadi dimana-mana.
Proses ini memakan ongkos yang banyak. Ongkos tidak selalu duit, bisa saja keringat dan air mata. Pergerakan Panitia lambat dan rupanya ada bagian di Panitia yang ternyata lebih solid daripada keseluruhan Panitia. Bahkan sudah mempunyai kendali kepanitiaan sendiri. Bagian dari Panitia tersebut adalah Panitia OHU.
Iya, Open House Unit. Mereka telah berlari sedemikian jauh. Sehingga, Panitia (ya, saya tentunya) akhirnya tersentak dan terbangun.
Betul, mereka berlari begitu jauh, begitu maju.
Ini tidak bisa dibiarkan, Panitia masih terbelakang, dan mereka jauh di depan
Lho?bukannya mereka bagian dari PMB?
Sudah selayaknya mereka menunggu langkah,
Panitia Inti harus memaksa mereka menunggu langkah Panitia Inti yang lamban.
Bahkan mencopoti elemen-elemen panitia OHU itu sendiri. Sampai tenaga kerja. Akhirnya, satu hal yang saya mengerti: Panitia PMB ini tidak mengerti OHU, dan merampas banyak hal dari mereka. Banyak yang bermasalah dengan langkah panitia OHU, termasuk saya (ohya, saat itu, saya menjadi staf danlap,hehehehe), tetapi ini dapat terjadi jika Panitia Inti saja bergerak terlalu lamban dan tidak berpikir luas dan luwes. Akhirnya kebersatuan OSKM dan OHU didalam PMB 2007 adalah kepura-puraan bagi saya. Bagi saya ini seperti obesitas. Panitia terlalu gemuk. Jika benar-benar satu maka tidak ada lagi OSKM ataupun OHU, yang ada adalah PMB, itu saja. Namun konsekuensinya, panitia PMB tentu harus merancang sistem panitia dan perangkatnya yang bisa menopang besarnya acara yang akan dibuat. Termasuk nuansa kerja. Bayangkan perangkat panitia OHU ditarik menjadi panitia lapangan, bayangkan juga panitia OHU diharuskan ikut mentoring. Aneh rasanya, kalau materi adalah rancangan pemikiran dari acara, bukankan orang-orang yang terlibat didalamnya pun sedang merancang acara yang merupakan buah dari pepohonan yang biasa disebut 'materi'? Permasalahan nilai dan pembelajaran yang didapat, saya kira semua orang punya porsi subjektif yang besar untuk menerima apa yang didapat dari proses PMB ini, bukannya dengan memaksa orang untuk menghapal dengan draft materi.
Belum lagi permasalahan OHH yang begitu bermasalah dalam kelahirannya, dan pada akhirnya berbuah pada bentuk yang tidak diduga: panel-panel beserta foto himpunan, beserta bendera dan panji himpunan. Itu saja.
Dalam segi konsep acara, PMB memang banyak melakukan percobaan. Seperti yang satu ini: PMB sepanjang 1 bulan. Bentuknya memang bermacam-macam per harinya, tetapi kendalinya menjadi permasalahan. Bentuknya sendiri lebih banyak seperti mentoring dan tidak ada pengumpulan massa yang besar.
Masalahnya, tidak ada yang bisa menjamin konsistensi panitia, apalagi konsistensi anak baru. Saya sendiri tidak yakin acara yang melibatkan setidaknya lebih dari 3000 orang akan efektif berjalan selama satu bulan. Pasti ada degradasi kualitas dari panitia maupun peserta. Engga usah ngomongin tatib kelompok yang sulit mengatur anak-anaknya atau diri sendiri untuk datang dalam setiap pertemuan. Permasalahan acara seperti ini adalah permasalahan bagaimana kita dapat mensituasikan kondisi kampus agar kondusif dan terjaga. Apakah kita bisa mensituasikan kampus masih beraura PMB selama satu bulan?dengan segala kuliahnya?dengan anak baru yang sudah mulai mengenal ruang kampus?
Tetapi dengan segala kekurangannya, saya salut dengan langkah Panitia yang berani dan 'keluar dari tradisi'.
Permasalahan anak-anak lapangan sendiri juga ada. Yaitu, anak-anak yang sudah lupa bagaimana membuat acara sebesar PMB, aspek-aspek mana yang harus dikuasai. Ada juga aspek profesionalitas. Aspek pengetahuan akan deskripsi kerja, seperti fungsi korlap dan danlap. Tetapi soliditas dari panitia lapangan perlu diacungi jempol.
Tanpa mengabaikan kinerja divisi lain, entah kenapa saya melihat keamanan alias Raka Prakasa sebagai divisi yang paling kompak dibandingkan dengan yang lain. Tetapi saya paling menikmati waktu tolol bersama para pendiklat taplok dan medik. Rasanya segar kalo udah bercanda ama mereka. Eh engga segar deng, tepatnya adalah, garing. Hahaha.
Ada juga permasalahan yang lumayan aneh, ketika muncul 'divisi bayangan' yang tugasnya sebagai tatib disiplin. Karena munculnya dadakan, kinerjanya pun aneh. Saya pun punya dosa sebagai pembuat deskripsi kerja. Disini ada faktor respek, dan saya tidak cukup hebat dalam hal itu. Ini terkait juga dengan pemilihan staf danlap, yang secara versi banyak ceritanya, pokonya kontestan akhirnya tersisa saya, Candra, Tepe, dan Uci.
Kejadian paling parah adalah pada saat pemulangan hari kedua yang molor sampai beberapa jam, ini permasalahannya ada pada kami yang kurang tanggap melihat persoalan lapangan. Acara rektorat pun banyak yang harus selesai jam setengah 6.
Fuh, capek juga ngetiknya. Apa segini aja ya?eahehahehaheahea. Duh, sebenarnya saya mengalami short-term memory juga, jadi pasti banyak detail yang lupa saya ketik di sini. Bahkan, mungkin dalam ceritera ini banyak yang harus dikonfirmasi ulang. Tetapi, mengutip kata Hanief: "Yang penting multiply effect-nya, ahehaheahehahe"
AHEY!
dilemparkan saja oleh
oknum berinisial depan "a" dan berinisial belakang "ul"
ketika
16:15
0
komentar
Link ke posting ini